A. Pengantar
Era globalisasi merupakan suatu keadaan yang tidak dapat terelakan dan kini nuansa tersebut sudah terasa. Batas wilayah negara suatu bangsa mulai terasa bias, dimana saja, dan kapan saja kita dapat berada dalam suatu negara dalam tempo yang singkat. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) telah menjadi media untuk keadaan ini, salah satunya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Semua keadaan ini telah menjadi konsekuensi kehidupan dunia saat kini. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau gelombang informasi dan globalisasi pasti menghampiri. Muara dari keadaan ini adalah semangat kompetisi menjadi ketat yang diukur oleh kompetensi yang nyata.
Manusia sebagai makhluk Alloh telah dibekali kemampuan adaptasi yang tinggi dibanding makhluk-makhluk lainnya, tentunya memiliki kemampuan untuk tetap survive dalam berbagai keadaan bahkan suatu keadaan seharusnya dirancang oleh manusia. Kemampuan untuk survive ini telah diserahkan kepada manusia itu sendiri tergantung bagaimana kita mendisain keadaan ini agar tercipta harmonisasi dalam kehidupan kita. Kesadaran ini penting dimiliki oleh setiap orang secara proporsional sesuai tugas fungsi masing-masing.
Persoalan ini sangatlah kompleks memerlukan pemikiran-pemikiran dan tinjauan-tinjauan komprehensif dari berbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi, sosial budaya, politik, keamanan, dan lain-lain. Dalam kesempatan ini kita akan berdiskusi dalam kawasan pendidikan yang kaitannya dengan Pembelajaran TIK di Sekolah Dasar. Masalah pendidikan yang begitu kompleks memerlukan perhatian yang serius dari berbagai kalangan. Kemajuan dan kesuksesan suatu bangsa kedepan akan sangat tergantung pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di dalamnya.
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah menjadi konsekuensi kehidupan masa kini. Sejak kelahiran seorang manusia, kini sudah mendapat sentuhan TIK. Demikian halnya dalam menjalani kehidupan itu sendiri, TIK menjadi menjadi pengantar kehidupan. Namun pada prakteknya ternyata tidak sederhana, dimana terjadi gap antara perkembangan global dengan kompetensi SDM. Membangun kompetensi SDM untuk mampu berdaya saing global bukan pula perkara sederhana namun harus dirancang sedini mungkin. Kalau kita tarik menjadi sebuah fenomena permasalahan, maka rumusan masalah yang akan kita diskusikan adalah “Bagaimana menyiapkan sumber daya manusia Indonesia agar memiliki daya saing global melalui pembelajaran berbasis TIK”.
B. Pendidikan dan Kualitas Sumber Daya Manusia
Departemen Pendidikan Nasional yang menetapkan diantaranya bahwa bangsa Indonesia harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sehingga setiap warga negara mampu meningkatkan kualitas hidup, produktivitas dan daya saing terhadap bangsa lain di era global. Oleh Karena itu pendidikan di tuntut untuk menyiapkan SDM agar memiliki kemampuan bersaing secara global. Dengan kata lain pendidikan bertugas untuk mempersiapkan SDM yang kompeten agar mampu bersaing dalam dunia global.
Kualitas sumber daya manusia adalah aset bagi bangsa dari suatu negara. Kualitas SDM menjadi keunggulan kompetitif yang dimiliki oleh negara dalam bersaing dengan negara lain. Membangun SDM yang mampu berkompetisi secara global memerlukan strategi yang optimal agar ketercaiannya dapat dijamin. Salah satu strategi pembangunan SDM diantaranya melalui peningkatan pendidikan dalam arti luas.
Pendidikan merupakan sarana pembelajaran mengenai ilmu pengetahuan. Melalui pembelajaran diharapkan kemampuan SDM meningkat secara optimal. Kualitas sumberdaya manusia didapat dari hasil pendidikan. Menurut Sudarwan kualitas intelektual SDM harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan tuntutan industrialisasi.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan, khususnya di Indonesia :
1. Faktor internal, meliputi jajaran pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan Daerah, dan juga sekolah yang berada di garis haluan depan.
2. Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya, yang merupakan ikon pendidikan dan juga merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan.
Manusia membutuhkan pendidikan dalam sepanjang hidupnya agar dapat berkembang menjadi lebih baik. Tanpa pendidikan manusia tidak akan berkembang dan cenderung terbelakang. Nilai penting dari pendidikan adalah suatu investasi sumber daya manusia yang dengan sendirinya akan memberi manfaat pada lingkungan. Dengan demikian pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang dapat dirasakan kegunaanya ketika pengetahuan atau kemampuannya bertambah.
Realita sebagai sebuah negara besar dari sisi jumlah penduduk dan berlimpah kekayaan alamnya, ternyata belum dapat menjamin menjadi sebuah negara maju. Semua ini tidak terlepas dari kualitas atau kompetensi SDM yang ada. Hal ini bukan hanya sebuah teori atau wacana belaka tapi sudah menjadi sebuah karakter yang harus diantisipasi dalam bangsa kita. Bangsa yang maju tentunya dimulai dari penduduk yang cerdas dan unggul secara ilmu dan semua itu hanya tercapai melalui pendidikan. Pendidikan dituntut mampu mengakomodir fungsi alami pendidikan untuk mencerdaskan rakyatnya yang akan berujung pada penciptaan daya saing bangsa. Pendidikan memerlukan pengelolaan yang profesional agar memiliki kualitas yang baik yang dapat memberi jaminan produk yang unggul yaitu manusia yang memiliki pengetahuan, kreatif, cerdas secara total, tanggungjawab, dan berakhlak mulia. Proses pendidikan secara formal akan bermuara pada proses pembelajaran. Dengan demikian, dalam konteks ini dapat dinyatakan bahwa SDM yang unggul akan terlahir dari proses pembelajaran yang berkualitas.
C. Pembalajaran Berbasis TIK
Perubahan-perubahan berbagai aspek kehidupan yang didorong oleh berbagai factor yang amat kompleks memunculkan tuntutan bahwa kualitas dalam pendidkan yang berbasis kepada pemenuhan standard tidak lagi memadai sebagai jawaban terhadap berbagai tuntutan yang berkembang itu.Kualitas memang mutlak perlu tetapi tidak berhenti sampai kualitas saja. Karena itu komponen –komponen seperti high performance, efisiensi, efektivitas dan produktivitas yang didukung oleh ICT dan values yang kokoh merupakan satu kesatuan yang harus terintegrasi dengan rapi dan cantik kedalam system manajemen. System manajemen seperti inilah yang disebut dengan system manajemen berbasis keunggulan tersebut System manajemen seperti ini jauh melampau tuntutan kualitas yang biasa dipersepesikan sebagai titik akhir pendidikan.
Sejumlah perubahan paradigma di dalam proses pembelajaran perlu kita lakukan agar kita siap memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Menurut pemanfaatannya, TIK di dalam pendidikan dapat dikategorisasikan menjadi 4 (empat) kelompok manfaat. Pertama, TIK sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan. Kedua, TIK sebagai Alat bantu Pembelajaran. Ketiga, TIK sebagai Fasilitas Pembelajaran. Keempat, TIK sebagai Infrastruktur Pembelajaran, dukungan teknis dan aplikatif untuk pembelajaran – baik dalam skala menengah maupun luas.
Berangkat dari optimalisasi pemanfaatan TIK untuk pembelajaran, kita berharap hal ini memberi kontribusi besar dalam peningkatan kualitas SDM Indonesia yang cerdas dan kompetitif melalui pembangunan masyarakat berpengetahuan (knowledge-based society). Masyarakat yang tangguh karena memiliki kecakapan: (1) ICT and media literacy skills, (2) critical thinking skills, (3) problem-solving skills, (4) effective communication skills, dan (5) collaborative skills yang diperlukan untuk mengatasi setiap permasalahan dan tantangan hidupnya.
Di dalam proses belajar-mengajar tentunya ada subjek dan objek yang berperan secara aktif, dinamik dan interaktif di dalam ruang belajar, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Guru & Siswa sama-sama dituntut untuk membuat suasana belajar dan proses transfer of knowledge–nya berjalan menyenangkan serta tidak membosankan. Oleh karena itu penataan peran Guru & Siswa di dalam kelas yang mengintegrasikan TIK di dalam pembelajaran perlu dipahami dan dimainkan dengan sebaik-baiknya.
Pada era pendidikan berbasis TIK, peran Guru tidak hanya sebagai penyampai informasi, namun sekaligus menjadi fasilitator, kolaborator, mentor, pelatih, pengarah dan teman belajar bagi Siswa. Dalam hal itu Guru dapat memberikan pilihan dan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam pengalaman belajarnya. Peran Siswa juga mengalami perubahan, dari partisipan pasif menjadi partisipan aktif yang banyak menghasilkan dan berbagi (sharing) pengetahuan/keterampilan serta berpartisipasi sebanyak mungkin sebagaimana layaknya seorang ahli. Disisi lain Siswa juga dapat belajar secara individu, sebagaimana halnya juga kolaboratif dengan siswa lain.
Untuk mendukung proses integrasi TIK di dalam pembelajaran, maka Manajemen Sekolah, Guru dan Siswa harus memahami 9 (sembilan) prinsip integrasi TIK dalam pembelajaran yang terdiri atas prinsip-prinsip:
1. Aktif: memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan bermakna.
2. Konstruktif: memungkinkan siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.
3. Kolaboratif: memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi masukan untuk sesama anggota kelompoknya.
4. Antusiastik: memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
5. Dialogis: memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu proses sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.
6. Kontekstual: memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (real-world) melalui pendekatan ”problem-based atau case-based learning”
7. Reflektif: memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh Norton et al (2001)).
8. Multisensory: memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik (dePorter et al, 2000).
9. High order thinking skills training: memungkinkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving, pengambilan keputusan, dll.) serta secara tidak langsung juga meningkatkan ”ICT & media literacy” (Fryer, 2001).
Terjadinya pembelajaran berbasis TIK dapat kita tuangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun dan implementasikan oleh setiap guru mata pelajaran di sekolah. RPP yang mengintegrasikan TIK di dalam pembelajaran dapat disusun melalui 2 (dua) pendekatan, yaitu pendekatan idealis dan pendekatan pragmatis.
1. Pertama, Pendekatan Idealis dapat dimulai dengan menentukan topik, kemudian menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai; dan menentukan aktifitas pembelajaran dengan memanfaatkan TIK (seperti modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar online di internet, atau alat komunikasi sinkronous dan asinkronous lainnya) yang relevan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut.
2. Kedua, Pendekatan Pragmatis dapat diawali dengan mengidentifikasi TIK (seperti buku, modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, atau alat komunikasi sinkronous dan asinkronous lainnya) yang ada atau mungkin bisa dilakukan atau digunakan, kemudian memilih topik-topik apa yang bisa didukung oleh keberadaan TIK tersebut, dan diakhiri dengan merencanakan strategi pembelajaran yang relevan untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator capaian hasil belajar dari topik pelajaran tersebut.
Adapun strategi yang dapat dipilih sesuai dengan kedua pendekatan tersebut adalah strategi: Resources-based learning (pembelajaran berbasis sumber daya), Case/problem-based learning (pembelajaran berbasis permasalahan/kasus sehari-hari), Simulation-based learning (pembelajaran berbasis simulasi), dan Colaborative-based learning (pembelajaran berbasis kolaborasi).
D. Karakteristik TIK
Teknologi Informasi dan Komunikasi harus memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Teknologi Informasi dan Komunikasi merupakan keterampilan menggunakan sistem komputer meliputi perangkat keras dan perangkat lunak. Namun demikian Teknologi Informasi dan Komunikasi tidak sekedar terampil, tetapi lebih memerlukan kemampuan intelektual.
2. Materi Teknologi Informasi dan Komunikasi harus berupa tema-tema esensial, aktual serta global yang berkembang dalam kemajuan teknologi pada masa kini, sehingga mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi merupakan pelajaran yang dapat mewarnai perkembangan perilaku dalam kehidupan.
3. Tema-tema esensial dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi merupakan perpaduan dari cabang-cabang Ilmu Komputer, Matematik, Teknik Elektronika, Telekomunikasi, Sibernetika dan Informatika itu sendiri. Tema-tema esensial tersebut harus berkaitan dengan kebutuhan pokok akan informasi sebagai ciri dari zaman (abad) 21 seperti pengolah kata, spreadsheet, presentasi, basis data, Internet dan e-mail. Tema-tema esensial tersebut terkait dengan aspek kehidupan sehari-hari.
4. Materi Teknologi Informasi dan Komunikasi harus dikembangkan dengan pendekatan interdisipliner dan multidimensional. Dikatakan interdisipliner karena melibatkan berbagai disiplin ilmu, dan dikatakan multidimensional karena mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Membentuk struktur yang sistematis dalam penyusunan kurikulum terkait dengan visi/target yang kemudian dikelompokkan ke dalam beberapa kemampuan yaitu : Pengetahuan (knowledge), Keahlian (skill), Analitis, Inovatif, dan Etika (Etic).
1. Pengetahuan
Pengertian tentang konsep-konsep dasar yang membangun teknologi informasi dan komunikasi yang terdiri atas : Unsur teknologi, Unsur Informasi, dan Unsur komunikasi.
2. Keahlian
Kemampuan tentang prinsip kerja dan pengoperasian perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang meliputi :
a. Unsur hardware : Instalasi, Menghidupkan, Menjalankan. Memelihara
b. Unsur Software : Instalasi, Mengoperasikan paket aplikasi pengolah (Teks, Audio, Video)
c. Kolaborasi Hardware dan Software : Manajemen informasi.
3. Analitis
Kemampuan untuk melakukan analisis dan menggunakan TIK sebagai alat terhadap bentuk-bentuk transformasi seperti : Grafik, dan Tabel .
4. Inovatif
Kemampuan untuk mengembangkan karya inovatif dengan perangkat TIK secara optimal.
5. Etika
Kemampuan melakukan klasifikasi dan antisipasi dampak penggunaan TIK dalam menyelesaikan masalah.
Kurikulum mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi perlu dimasukkan dan mempertimbangkan unsur pedagogis diantaranya mempertimbangkan usia dan tahapan sekolah mulai dari SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. Secara umum komposisi tersebut sebagai berikut :
1. Sekolah Dasar / Madrasah Iftidaiyah
- Aspek pengenalan komputer dan Komunikasi (ICT): Game-game untuk education, dan Interaksi (berbagai macam input/output device)
- Menggunakan komputer untuk : Menggambar (clip art), Word art, dan Berbagai simbol lain (2D, 3D).
- Etika dan HaKI
2. Sekolah Menengah Pertama / Madrasah Tsyanawiyah
a. TIK sebagai alat yang bisa memproses : Teks, Numerik, Grafik, Internet
b. Etika dan HaKI
3. Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah
TIK sebagai Sistem development/operation/maintenance
a. Aplikasi sederhana untuk: Matematika, Fisika, Kimia, dan lain-lain
b. Aplikasi sederhana untuk aktivitas sehari-hari: Bisnis – membuat jurnal keuangan, Model menu, Web, dan lain-lain
c. Aplikasi untuk produksi (design art) : Brosur, Poster, Kartu nama, dan lain-lain
d. Management TIK dan Jaringan : Mengelola file, Mengelola printer, Mengelola jaringan, dan lain-lain
e. Etika dan HaKI
E. Penutup
Sebagai bangsa yang besar, baik dalam segi jumlah penduduk, kekayaan alam dan letak geografis, sesungguhnya Indonesia mempunyai kesempatan yang besar untuk menjadi bangsa yang maju dan mandiri. Kuncinya terletak pada kemauan politik (political will), kerjasama (gotong royong), serta fokus mengarahkan energi demi kemajuan bangsa. Dalam upaya menghasilkan SDM yang berkualitas, maka bidang pendidikan harus dikelola secara profesional yang bermuara pada profesionalisme pembelajaran. Model pembelajaran inovatif di era global ditandai dengan dominasi yang amat kuat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi yang telah berkembang amat pesat pada dua dekade terakhir ini. Begitu banyak kemajuan yang ada dihadapan kita, terutama yang didukung dengan teknologi. Namun semua piranti itu tidak akan bermanfaat bila tidak dimanfaatkan dan dikomunikasikan secara baik kepada para siswa. Kita sebagai komponen pendidikan harus segera mengadop dan mengimplementasikan perubahan-perubahan paradigma pembelajaran. Teknologi informasi dan komunikasi memberi peran penting saat ini dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas. Dalam hal ini peran guru muncul ke permukaan, dengan posisi dan postur yang menentukan. Adalah benar bahwa guru sebagai pemegang kunci utama dalam upaya perbaikan pendidikan, dan karenanya dituntut untuk peka dan mempunyai kemelekan yang memadai terhadap teknologi informasi dan komunikasi agar mampu menciptakan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efisien dan menyenangkan. Tentu saja di belakang itu, kesejahteraan guru akan turut memberikan andil yang berarti.
Daftar Pustaka
[1]. Dublin , Dublin, L. and Cross, J.2003 , Implementing eLearning: getting the most from your elearning investment, the ASTD International Conference, May 2003.
[2]. Delio Michelle, 2003, Report: Online Training ‘Boring’, Wired News, located at www.wired.com/news/business/0,1367,38504,00.html
[3]. Dempsey. John , Reiser Robert A, 2002, Trends and Issues in Instructional Design and Technology, Merril Prentice Hall, Ohio.
[4]. Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Informasi dan Elektronika, 2001, Indikator Teknologi Informasi dan Komunikasi.
[5]. Webb, N.L.,1992, Assessment of Student Knowledge of Mathematics: Step toward a Theory. University of Wisconsin Madison.
[6]. Wiggins, G., 1998, Educative assessment: designing assessments to reform and improve group performance, San Francisco: Jossey Bass.
[7]. Johnson D. W., Johson R. T., and Smith K., 1991, Active Learning: Cooperation in the Classroom, Edina, MN: Interaction Book Company.
[8]. Ana Hadiana, Kenji Kaijiri, 2003, Collaboration Learning Support System Using Q&A, 4th International Conference of Information Technology for High Education and Training.
[9]. Japanese Association of Education Engineering, Dictionary of Education Engineering, Jikkyou Publisher
[10]. Yutaka Matsusita, Kenichi Okada, Collaboration and Communacation, Kyouritu Publisher
[11]. Johson D. W., Learning together and alone, Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.